JAKARTA, || Insiden kecelakaan laut yang menimpa kapal semi pinisi KM Putri Sakinah kembali menyoroti lemahnya tata kelola keselamatan wisata bahari di Indonesia. Kapal tersebut mengangkut 11 orang, terdiri atas enam wisatawan asing asal Spanyol, satu pemandu wisata, serta empat anak buah kapal (ABK) termasuk nakhoda.
Dalam peristiwa tersebut, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tujuh orang korban selamat, yakni empat ABK termasuk nakhoda, dua wisatawan asing, dan seorang pemandu wisata. Hingga saat ini, empat penumpang lainnya masih dalam proses pencarian dan penanganan lanjutan.
Operasi penyelamatan melibatkan Basarnas, TNI AL, Polairud, serta unsur masyarakat setempat. Proses evakuasi berlangsung dalam kondisi cuaca dan medan laut yang cukup menantang.
Menanggapi insiden tersebut, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menilai kecelakaan ini bukan sekadar peristiwa tunggal, melainkan cerminan dari lemahnya pengawasan dan rendahnya kepatuhan terhadap standar keselamatan wisata bahari.
“Ini bukan kejadian pertama. Kecelakaan wisata laut terus berulang, dan negara sering kali baru hadir setelah korban berjatuhan,” ujar Lamhot dalam keterangan tertulis yang diterima Parlementaria, Selasa (30/12/2025).
Politisi Fraksi Partai Golkar itu menegaskan, Komisi VII DPR RI memandang insiden tersebut sebagai peringatan keras atas praktik pengelolaan wisata yang mengabaikan aspek keselamatan demi kepentingan ekonomi.
Menurutnya, masih banyak operator wisata bahari yang beroperasi tanpa pengawasan ketat, baik terkait kelayakan kapal, ketersediaan alat keselamatan, maupun kompetensi dan sertifikasi awak kapal.
“Keselamatan sering kali hanya menjadi formalitas di atas kertas, padahal wisata bahari merupakan sektor berisiko tinggi yang menuntut disiplin dan pengawasan ekstra,” tegasnya.
Lamhot juga menyoroti lemahnya koordinasi antarinstansi, mulai dari Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, hingga pemerintah daerah, yang dinilai menciptakan celah besar dalam pengendalian keselamatan wisata.
Ia mengingatkan bahwa insiden yang melibatkan wisatawan asing berpotensi mencoreng citra pariwisata Indonesia di mata internasional. Menurutnya, promosi pariwisata tidak akan berarti tanpa jaminan keselamatan.
“Keselamatan harus menjadi indikator utama keberhasilan pariwisata nasional. Tanpa itu, pembangunan pariwisata justru mencerminkan kegagalan tata kelola,” pungkas Lamhot.
(Editor : Rizal)
Comment